Evolusi Industri Kreatif Perfilman Indonesia
Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.
Industri perfilman
Indonesia mengalami perkembangan yang positif dalam kurun kurang lebih 5 tahun
waktu terakhir. Pasalnya, tahun-tahun sebelumnya industri perfilman Indonesia
mengalami kondisi naik-turun, bahkan sempat menapaki titik terendah pada decade
1990-an.
Dimulailah tahun 2000
industri perfilman mulai naik perlahan-lahan. Film Ada Apa Dengan Cinta?,
Petualangan Sherina, dan Jelangkung menjadi film pembuka yang membuat munculnya
harapan dari industry perfilman Indonesia yang akan datang.
Tidak melulu soal genre
yang monoton, industri perfilman Indonesia selalu memperbaharui genre film berkiblat
kepada film-film Hollywood seperti film romansa, film horror, hingga film laga.
Semakin cepat perkembangan industri perfilman Indonesia bahkan film-film garapan
Indonesia mampu tembus pasar internasional, bukti kualitas perfilman Indonesia
semakin maju.
Semenjak 5 tahun terakhir
industri perfilman Indonesia menoreh prestasi yang baik dikancah nasional hingga
internasional, para rumah produksi berlomba-lomba untuk memproduksi film yang
lebih berkualitas dari segi cerita sekaligus menguntungkan secara komersial. Naiknya popularitas industri perfilman
Indonesia juga tak lepas dari para penonton Indonesia yang mengapresiasi film
produksi local secara positif. Misalnya film Dear Nathan sebuah film trilogi
karya Erisca Febriani yang mendapat nilai positif dari masyarakat, film trilogi
yang dimulai dari Dear Nathan yang mengangkat kehidupan social di sekolah dan
keluarga, lalu dilanjut film Dear Nathan Hello Salma yang mengangkat isu bullying,
dan akhir dari trilogi ini adalah Dear Nathan Thank You Salma yang mengangkat
isu pelecehan seksual
Industri perfilman Indonesia memiliki potensi yang bisa dikembangkan menjadi lebih baik, meski begitu masih ada tantangan yang harus dihadapi seperti minimnya sumber daya manusia yang benar-benar mempunyai keahlian di bidang film, sehingga pilihan untuk memperoleh tim produksi film seperti sutradara, kru, pemain masih sangat terbatas lalu layar bioskop yang penyebarannya kurang merata di Indonesia serta kurangnya proteksi terhadap hak karya cipta sehingga aksi pembajakan masih marak terjadi.
(klarista'sworld)

Apakah kehadiran media sosial seperti Youtube dan sejenisnya membawa dampak nagi perkembangan dunia industri perfileman di Indonesia?
BalasHapusmenurut saya cukup berdampak, karena promosi film bisa dilakukan melalui Youtube, biasanya ada video teaser sebelum film tersebut rilis. Contohnya PH Rapi Films yang turut mempromosikan film-filmnya lewat Youtube. Serta media sosial lainnya seperti Instagram, Twitter, hingga TikTok turut menyediakan wadah promosi bagi PH untuk mempromosikan filmnya
HapusSaat ini industri perfilman semuanya beralih ke platform media sosial sehingga banyak orang telah meninggalkan fungsi dari tv akibat minimnya tontonan baru yang diinginkan para peminatnya.
BalasHapusLuar biasa, perkembangan Industri Kreatif di bidang Perfilman Indonesia dari tahun ke tahun semakin bagus dan berbobot yang membuat masyarakat banyak mendapat Pelajaran dari Film - Film yang ditayangkan. Terima Kasih Mbak Maya atas Sharingnya 🙏👍
BalasHapuscukup menarik materi yang digunakan, perrfilman tidak akan jauh dari kehidupan sehari hari apalagi saat ini banyak film yang menyeritakan sebuah novel cerita kehidupan secara real
BalasHapusDari sini saya dapat mengerti perkembangan industri kreatif perfilman Indonesia. Terima kasih sharingnya mbak Mayang.
BalasHapusLuar biasa atas perkembangan perfilmanya di indonesi terus memperbarui
BalasHapusMateri yang diangkat sangat menarik, sehingga saya mendapatkan ilmu perfilman yang luas.
BalasHapus